Menurut teori evolusi, setiap
spesies hidup berasal dari satu nenek moyang. Spesies yang ada sebelumnya
lambat laun berubah menjadi spesies lain, dan semua spesies muncul dengan cara
ini. Menurut teori tersebut, perubahan ini berlangsung sedikit demi sedikit
dalam jangka waktu jutaan tahun.
Dengan demikian, maka seharusnya
pernah terdapat sangat banyak spesies peralihan selama periode perubahan yang
panjang ini.
Sebagai contoh, seharusnya terdapat
beberapa jenis makhluk setengah ikan - setengah reptil di masa lampau, dengan
beberapa ciri reptil sebagai tambahan pada ciri ikan yang telah mereka miliki.
Atau seharusnya terdapat beberapa jenis burung-reptil dengan beberapa ciri
burung di samping ciri reptil yang telah mereka miliki. Evolusionis menyebut
makhluk-makhluk imajiner yang mereka yakini hidup di masa lalu ini sebagai
"bentuk transisi".
Jika binatang-binatang seperti ini
memang pernah ada, maka seharusnya mereka muncul dalam jumlah dan variasi
sampai jutaan atau milyaran. Lebih penting lagi, sisa-sisa makhluk-makhluk aneh
ini seharusnya ada pada catatan fosil. Jumlah bentuk-bentuk peralihan ini pun
semestinya jauh lebih besar daripada spesies binatang masa kini dan sisa-sisa
mereka seharusnya ditemukan di seluruh penjuru dunia. Dalam The Origin of
Species, Darwin menjelaskan:
"Jika teori saya benar, pasti
pernah terdapat jenis-jenis bentuk peralihan yang tak terhitung jumlahnya, yang
mengaitkan semua spesies dari kelompok yang sama…. Sudah tentu bukti keberadaan
mereka di masa lampau hanya dapat ditemukan pada peninggalan-peninggalan
fosil." 1
Bahkan Darwin sendiri sadar akan
ketiadaan bentuk-bentuk peralihan tersebut. Ia berharap bentuk-bentuk peralihan
itu akan ditemukan di masa mendatang. Namun di balik harapan besarnya ini, ia
sadar bahwa rintangan utama teorinya adalah ketiadaan bentuk-bentuk peralihan.
Karena itulah dalam buku The Origin of Species, pada bab "Difficulties of
the Theory" ia menulis:
... Jika suatu spesies memang
berasal dari spesies lain melalui perubahan sedikit demi sedikit, mengapa
kita tidak melihat sejumlah besar bentuk transisi di mana pun? Mengapa alam
tidak berada dalam keadaan kacau-balau, tetapi justru seperti kita lihat,
spesies-spesies hidup dengan bentuk sebaik-baiknya?.... Menurut teori ini harus
ada bentuk-bentuk peralihan dalam jumlah besar, tetapi mengapa kita tidak
menemukan mereka terkubur di kerak bumi dalam jumlah tidak terhitung?.... Dan
pada daerah peralihan, yang memiliki kondisi hidup peralihan, mengapa sekarang
tidak kita temukan jenis-jenis peralihan dengan kekerabatan yang erat? Telah
lama kesulitan ini sangat membingungkan saya.2
Satu-satunya penjelasan Darwin atas
hal ini adalah bahwa catatan fosil yang telah ditemukan hingga kini belum
memadai. Ia menegaskan jika catatan fosil dipelajari secara terperinci, mata
rantai yang hilang akan ditemukan.
Karena mempercayai ramalan Darwin,
kaum evolusionis telah berburu fosil dan melakukan penggalian mencari mata
rantai yang hilang di seluruh penjuru dunia sejak pertengahan abad ke-19.
Walaupun mereka telah bekerja keras, tak satu pun bentuk transisi ditemukan.
Bertentangan dengan kepercayaan evolusionis, semua fosil yang ditemukan justru
membuktikan bahwa kehidupan muncul di bumi secara tiba-tiba dan dalam bentuk
yang telah lengkap. Usaha mereka untuk membuktikan teori evolusi justru tanpa
sengaja telah meruntuhkan teori itu sendiri.
Fosil-Fosil Hidup
Teori evolusi menyatakan bahwa
spesies makhluk hidup terus-menerus berevolusi menjadi spesies lain. Namun
ketika kita membandingkan makhluk hidup dengan fosil-fosil mereka, kita melihat
bahwa mereka tidak berubah setelah jutaan tahun. Fakta ini adalah bukti nyata
yang meruntuhkan pernyataan evolusionis.
|
Seorang ahli paleontologi Inggris
ternama, Derek V. Ager, mengakui fakta ini meskipun dirinya seorang
evolusionis:
Jika kita mengamati catatan fosil
secara terperinci, baik pada tingkat ordo maupun spesies, maka yang selalu kita
temukan bukanlah evolusi bertahap, namun ledakan tiba-tiba satu kelompok
makhluk hidup yang disertai kepunahan kelompok lain. 3
Ahli paleontologi evolusionis
lainnya, Mark Czarnecki, berkomentar sebagai berikut:
Kendala utama dalam membuktikan
teori evolusi selama ini adalah catatan fosil; jejak spesies-spesies yang
terawetkan dalam lapisan bumi. Catatan fosil belum pernah mengungkapkan
jejak-jejak jenis peralihan hipotetis Darwin - sebaliknya, spesies muncul
dan musnah secara tiba-tiba. Anomali ini menguatkan argumentasi
kreasionis*) bahwa setiap spesies diciptakan oleh Tuhan. 4
Mereka juga harus mengakui
ke-sia-siaan menunggu kemunculan bentuk-bentuk transisi yang "hilang"
di masa mendatang, seperti yang dijelaskan seorang profesor paleontologi dari
Universitas Glasgow, T. Neville George:
Tidak ada gunanya lagi menjadikan
keterbatasan catatan fosil sebagai alasan. Entah bagaimana, catatan fosil
menjadi berlimpah dan hampir tidak dapat dikelola, dan penemuan bermunculan
lebih cepat dari pengintegrasian... Bagaimanapun, akan selalu ada kekosongan
pada catatan fosil. 5
FOKUS: Mitos tentang Evolusi Kuda

Contoh
populer evolusi kuda, yang mengemukakan perubahan bertahap dari makhluk
seukuran rubah dengan kaki berjari empat yang hidup hampir 50 juta tahun lalu
menjadi kuda masa kini yang lebih besar dengan kaki berjari satu, telah lama
diketahui keliru. Bertentangan dengan perubahan secara bertahap, fosil setiap
spesies peralihan tampak sama sekali berbeda, tidak berubah, dan kemudian
menjadi punah. Bentuk-bentuk transisi tidak diketahui.1
Seorang ahli paleontologi kenamaan,
Colin Patterson, direktur Natural History Museum, Inggris, berkomentar tentang
skema "evolusi kuda" yang dipamerkan untuk umum di lantai dasar
museum tersebut:
Telah begitu banyak cerita tentang
sejarah kehidupan di bumi ini, sebagian lebih imajinatif daripada yang lain.
Contoh paling terkenal, masih dipamerkan di lantai bawah, adalah skema evolusi
kuda yang dibuat barangkali 50 tahun lalu. Dan itu telah dijadikan kebenaran
harfiah dari buku ke buku. Kini, saya pikir itu perlu disesali, terutama jika
mereka yang mengajukan cerita semacam ini sendiri menyadari betapa
spekulatifnya sebagian skema tersebut. 2
Jadi, apa yang mendasari skenario
"evolusi kuda"? Skenario ini dirumuskan dengan diagram-diagram tipuan
yang disusun berurutan dari fosil spesies-spesies berbeda yang hidup pada
periode sangat berlainan di India, Afrika Selatan, Amerika Utara dan Eropa,
se-mata-mata mengikuti imajinasi evolusionis. Terdapat lebih dari 20 diagram
evolusi kuda yang diajukan para peneliti. Semua diagram itu sangat berbeda satu
sama lain. Evolusionis tidak mencapai kesepakatan tentang hal ini. Satu-satunya
persamaan di antara mere-ka keyakinan bahwa nenek moyang kuda (Equus) adalah
makhluk seukur-an anjing yang disebut "Eohippus", hidup dalam Periode
Eosin 55 juta tahun lalu. Akan tetapi, jalur evolusi dari Eohippus ke Equus
sama sekali tidak konsisten.
Seorang evolusionis yang juga
penulis ilmu alam, Gordon R. Taylor, menjelaskan kenyataan yang jarang diakui
ini dalam bukunya, The Great Evolution Mystery:
Namun barangkali kelemahan paling
serius dari Darwinisme adalah kegagalan para ahli paleontologi menemukan
filogeni atau silsilah organisme yang meyakinkan untuk menunjukkan perubahan
evolusi besar... Kuda sering dikemukakan sebagai satu-satunya contoh yang bisa
mewakili sepenuhnya. Akan tetapi kenyataannya, garis yang menghubungkan
Eohippus dengan Equus sangat tidak menentu. Garis ini semestinya menunjukkan
peningkatan ukuran badan yang kontinu. Tetapi kenyataannya, sejumlah varian
berukuran lebih kecil dari Eohippus, bukannya lebih besar. Spesimen-spesimen
dari berbagai sumber dapat digabungkan dalam urutan yang tampak begitu
meyakinkan, tetapi tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa mereka tersusun
menurut waktu yang sesuai dengan urutan ini.3
Semua fakta ini adalah bukti kuat
bahwa diagram-diagram evolusi kuda, yang dinyatakan sebagai satu bukti paling
kokoh untuk Darwinisme, tidak lain hanyalah dongeng fantastis dan tidak masuk
akal.
Penafsiran Menyesatkan tentang Fosil
Sebelum melangkah ke bagian
terperinci dari mitos evolusi manusia, perlu disebutkan metode propaganda yang
telah meyakinkan masyarakat umum tentang gagasan bahwa di masa lampau pernah
hidup makhluk separo manusia - separo kera. Metode propaganda ini menggunakan
"rekonstruksi" yang dibuat berdasarkan fosil-fosil. Rekonstruksi yang
dimaksud adalah pembuatan gambar atau model makhluk hidup berdasarkan sepotong
tulang - kadangkala hanya berupa fragmen - yang berhasil digali. "Manusia
kera" yang kita lihat dalam surat kabar, majalah, atau film semuanya
adalah hasil rekonstruksi.
Fosil-fosil biasanya tidak tersusun
dan tidak lengkap. Karenanya, rekaan apa pun yang didasarkan padanya cenderung
sangat spekulatif. Kenyataannya, rekonstruksi (gambar atau model) yang dibuat
evolusionis berdasarkan peninggalan-peninggalan fosil itu telah dipersiapkan
secara spekulatif namun cermat untuk mendukung pernyataan evolusi. Seorang ahli
antropologi dari Harvard, David R. Pilbeam, menegaskan fakta ini ketika
mengatakan, "Setidaknya dalam paleoantropologi, data masih sangat jarang sehingga
teori sangat mempengaruhi penafsiran. Teori-teori, di masa lampau, dengan
jelas mencerminkan ideologi-ideologi kita bukannya mewakili data
sesungguhnya".1 Karena masyarakat sangat terpengaruh oleh
informasi visual, rekonstruksi-rekonstruksi ini adalah cara terbaik untuk
membantu kaum evolusionis mencapai tujuannya, yaitu meyakinkan orang bahwa
makhluk-makhluk ini benar-benar ada di masa lalu.
Gambar-Gambar
Imajiner yang Menyesatkan
Dengan
gambar dan rekonstruksi, evolusionis sengaja memberi bentuk pada ciri-ciri
fisik yang sebenarnya tidak meninggalkan jejak-jejak fosil, seperti struktur
hidung dan bibir, bentuk rambut, bentuk alis dan rambut bagian tubuh lain,
untuk mendukung teori evolusi. Mereka juga menyiapkan gambar-gambar
terperinci makhluk-makhluk imajiner ini sedang berjalan dengan keluarga
mereka, berburu, atau contoh-contoh kehidupan mereka sehari-hari lainnya.
Akan tetapi, semua gambaran ini adalah rekaan belaka dan tidak memiliki acuan
pada catatan fosil.
|
Sampai di sini, kita perlu
menggarisbawahi satu hal: rekonstruksi berdasarkan sisa-sisa tulang hanya dapat
mengungkapkan karakteristik sangat umum dari obyek tersebut, karena penjelasan
terperinci sesungguhnya terletak pada jaringan lunak yang cepat sekali hancur.
Jadi, dengan penafsiran spekulatif terhadap jaringan lunak, gambar atau model
rekonstruksi menjadi sangat tergantung pada imajinasi pembuatnya. Earnst A.
Hooten dari Universitas Harvard, menjelaskan situasi ini sebagai berikut:
Usaha untuk menyusun kembali
bagian-bagian lunak adalah pekerjaan yang lebih berisiko lagi. Bibir, mata,
telinga dan ujung hidung tidak meninggalkan tanda apa pun pada tulang di
bawahnya yang bisa menjadi petunjuk. Dengan kemudahan yang sama, dari sebuah
tengkorak Neandertaloid, Anda dapat merekonstruksi muka simpanse atau roman
aristokrat seorang filsuf. Nilai ilmiah restorasi hipotetis tipe-tipe manusia
purba ini sedikit sekali, itu pun kalau ada, dan ini cenderung hanya menyesatkan
masyarakat.... Jadi, janganlah Anda mempercayai rekonstruksi.2
Tiga Rekonstruksi Berbeda dari
Tengkorak yang Sama
|
Kenyataannya, evolusionis mengarang
cerita yang sangat tidak masuk akal sehingga untuk satu tengkorak yang sama,
mereka bahkan menggambarkan wajah-wajah yang berbeda. Satu contoh terkenal dari
penipuan semacam ini adalah tiga gambar rekonstruksi berlainan yang dibuat
untuk satu fosil bernama Australopithecus robustus (Zinjanthropus).
Penafsiran menyimpang terhadap fosil
maupun pembuatan banyak rekonstruksi rekaan bisa menjadi indikasi betapa sering
evolusionis melakukan tipu muslihat. Namun ini tidak seberapa dibandingkan
dengan semua pemalsuan yang sengaja dilakukan sepanjang sejarah evolusi.
Evolusi: Kepercayaan yang Tidak
Ilmiah
Lord Solly Zuckerman adalah salah
seorang peneliti terkemuka dan terhormat di Inggris. Bertahun-tahun ia meneliti
catatan fosil dan melakukan banyak penyelidikan secara terperinci. Ia
dianugerahi gelar kebangsawanan "Lord" untuk kontribusinya bagi ilmu
pengetahuan. Zuckerman adalah seorang evolusionis. Jadi, komentarnya mengenai
evolusi tidak dapat dianggap sebagai pernyataan untuk menentang teori evolusi.
Setelah bertahun-tahun meneliti fosil yang digunakan dalam skenario evolusi
manusia, ia berkesimpulan bahwa silsilah seperti itu tidak ada.
Zuckerman juga menyusun sebuah
"spektrum ilmu pengetahuan" yang menarik. Ia membentuk spektrum ilmu
pengetahuan dari yang dianggapnya ilmiah hingga tidak ilmiah. Menurut spektrum
Zuckerman, yang paling "ilmiah" tergantung pada data konkret-adalah
bidang kimia dan fisika. Setelah itu biologi, kemudian diikuti ilmu-ilmu
sosial. Pada ujung berlawanan, yang dianggap paling tidak "ilmiah",
terdapat "extra-sensory perception (ESP)"konsep seperti telepati dan
indra keenam-dan terakhir adalah "evolusi manusia". Zuckerman
menjelaskan alasannya:
Kita kemudian bergerak dari
kebenaran objektif langsung ke bidang-bidang yang dianggap sebagai ilmu
biologi, seperti extra sensory perception atau interpretasi sejarah fosil
manusia. Dalam bidang-bidang ini, segala sesuatu mungkin terjadi bagi yang
percaya, dan orang yang sangat percaya kadang-kadang mampu meyakini sekaligus
beberapa hal yang saling kontradiktif.30
Lalu, alasan apa yang membuat banyak
ilmuwan berkeras mempertahankan dogma ini? Mengapa mereka berusaha begitu keras
mempertahankan teori ini agar tetap hidup, walaupun harus mengalami berbagai
konflik dan membuang bukti-bukti yang mereka temukan sendiri?
Satu-satunya jawaban adalah
ketakutan mereka akan fakta yang harus mereka hadapi jika teori evolusi ini
ditinggalkan. Fakta bahwa manusia diciptakan oleh Allah. Akan tetapi, mengingat
praduga dan filsafat materialistis mereka, penciptaan adalah konsep yang tidak
dapat diterima evolusionis.
Untuk alasan ini, mereka menipu diri
sendiri serta semua orang di dunia, melalui kerja sama dengan media massa. Jika
mereka tidak dapat menemukan fosil yang dibutuhkan, mereka akan
"membuatnya" baik dalam bentuk gambar rekaan atau model-model
khayalan, dan mencoba memberikan kesan bahwa fosil-fosil yang membuktikan teori
evolusi benar-benar ada. Sebagian media massa yang menganut pandangan
materialistis juga mencoba menipu masyarakat dan menanamkan kisah evolusi ke
alam bawah sadar manusia.
Sekeras apa pun mereka mencoba,
kebenaran tetap jelas: manusia muncul bukan melalui proses evolusi tetapi
karena telah diciptakan Allah. Karena itu, manusia bertanggung jawab kepada-Nya
betapa pun ia tidak ingin menerima tanggung jawab ini.
Kesimpulan: Evolusi Adalah Sebuah
Kebohongan
Masih banyak bukti dan hukum-hukum
ilmiah lain yang menggugurkan teori evolusi. Namun dalam buku ini kita hanya
membahas beberapa di antara-nya. Itu pun seharusnya sudah cukup untuk
menyingkap se-buah kebenaran terpenting. Meskipun ditutup-tutupi dengan kedok
ilmu pengetahuan, teori evolusi hanyalah sebuah kebohongan; kebohongan yang
dipertahankan hanya untuk kepentingan filsafat materialistis. Kebohongan yang
tidak berdasarkan pada ilmu pengetahuan tetapi pada pencucian otak, propaganda
dan penipuan.
Berikut ini adalah rangkuman dari
pembahasan sejauh ini:
Teori Evolusi Telah Runtuh
Sejak langkah pertamanya, teori
evolusi telah gagal. Buktinya, evolusionis tidak mampu menjelaskan proses
pembentukan satu protein pun. Baik hukum probabilitas maupun hukum fisika dan
kimia tidak memberikan peluang sama sekali bagi pembentukan kehidupan secara
kebetulan.
Bila satu protein saja tidak dapat
terbentuk secara kebetulan, apakah masuk akal jika jutaan protein menyatukan
diri membentuk sel, lalu milyaran sel secara kebetulan pula menyatukan diri
membentuk organ-organ hidup, lalu membentuk ikan, kemudian ikan beralih ke
darat, menjadi reptil, dan akhirnya menjadi burung? Begitukah cara jutaan
spesies di bumi terbentuk?
Meskipun tidak masuk akal bagi Anda,
evolusionis benar-benar meyakini dongeng ini.
Evolusi lebih merupakan sebuah
kepercayaan - atau tepatnya keyakinan - karena mereka tidak mempunyai bukti
satu pun untuk cerita mereka. Mereka tidak pernah menemukan satu pun bentuk
peralihan seperti makhluk setengah ikan-setengah reptil, atau makhluk setengah
reptil-setengah burung. Mereka pun tidak mampu membuktikan bahwa satu protein,
atau bahkan satu molekul asam amino penyusun protein dapat terbentuk dalam
kondisi yang mereka sebut sebagai kondisi bumi purba. Bahkan dalam laboratorium
yang canggih, mereka tidak berhasil membentuk protein. Sebaliknya, melalui
seluruh upaya mereka, evolusionis sendiri malah menunjukkan bahwa proses
evolusi tidak dapat dan tidak pernah terjadi di bumi ini.
Di Masa Mendatang pun Evolusi Tidak
Dapat Dibuktikan
Menghadapi kenyataan ini, evolusionis
hanya dapat menghibur diri dengan khayalan bahwa suatu saat nanti, entah
bagaimana caranya, ilmu pengetahuan akan menjawab semua dilema ini.
Mengharapkan ilmu pengetahuan akan membenarkan semua pernyataan tidak berdasar
dan tidak masuk akal ini adalah hal yang mustahil, sampai kapan pun.
Sebaliknya, sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan, kemustahilan pernyataan
evolusionis akan semakin terbuka dan semakin jelas.
Begitulah yang terjadi sejauh ini.
Semakin terperinci struktur dan fungsi sel diketahui, semakin jelas bahwa sel
bukan susunan sederhana yang terbentuk secara acak, seperti pemahaman biologis
primitif masa Darwin.
Rasa percaya diri berlebihan dalam
menolak fakta penciptaan dan menyatakan bahwa kehidupan berasal dari
kebetulan-kebetulan yang mustahil, lalu berkeras mempertahankannya, kelak akan
berbalik menjadi sumber penghinaan. Ketika wajah asli dari teori evolusi
semakin tersingkap dan opini publik mulai melihat kebenaran, para pendukung
evolusi yang fanatik buta ini tidak akan berani lagi memperlihatkan wajah
mereka.
Rintangan Terbesar bagi Evolusi:
Jiwa
Banyak spesies di bumi ini yang
mirip satu sama lain. Misalnya, banyak makhluk hidup yang mirip dengan kuda
atau kucing, dan banyak serangga mirip satu dengan lainnya. Kemiripan seperti
ini tidak membuat orang heran.
Sedikit kemiripan antara manusia dan
kera, entah bagaimana terlalu banyak menarik perhatian. Ketertarikan ini kadang
menjadi sangat ekstrem sehingga membuat beberapa orang mempercayai tesis palsu
evolusi. Sebenarnya, kemiripan tampilan antara manusia dan kera tidak
memberikan arti apa-apa. Kumbang tanduk dan badak juga memiliki kemiripan
tampilan, namun menggelikan sekali jika mencari mata rantai evolusi di antara
keduanya hanya berdasarkan kemiripan tampilan saja; yang satu adalah serangga
dan yang lainnya mamalia.
Selain kemiripan tampilan, kera
tidak bisa dikatakan berkerabat lebih dekat dengan manusia dibandingkan dengan
hewan lain. Jika tingkat kecerdasan dipertimbangkan, maka lebah madu dan
laba-laba dapat dikatakan berkerabat lebih dekat dengan manusia karena keduanya
dapat membuat struktur sarang yang menakjubkan. Dalam beberapa aspek, mereka
bahkan lebih unggul.
Terlepas dari kemiripan tampilan
ini, ada perbedaan sangat besar an-tara manusia dan kera. Berdasarkan tingkat kesadarannya,
kera adalah hewan yang tidak berbeda dengan kuda atau anjing. Sedangkan manusia
adalah makhluk sadar, berkeinginan kuat dan dapat berpikir, berbicara,
mengerti, memutuskan, dan menilai. Semua sifat ini merupakan fungsi jiwa yang
dimiliki manusia. Jiwa merupakan perbedaan paling penting yang jauh memisahkan
manusia dari makhluk-makhluk lain. Tak ada satu pun kemiripan fisik yang dapat
menutup jurang lebar di antara manusia dan makhluk hidup lainnya. Di alam ini,
satu-satunya makhluk hidup yang mempunyai jiwa adalah manusia.
Allah Mencipta Menurut Kehendak-Nya
Apakah akan menjadi masalah jika
skenario yang diajukan evolusionis benar-benar telah terjadi? Sedikit pun
tidak, karena setiap tahapan yang diajukan teori evolusioner dan berdasarkan
konsep kebetulan, hanya dapat terjadi karena suatu keajaiban. Bahkan jika
kehidupan benar-benar muncul secara berangsur-angsur melalui tahapan-tahapan
demikian, masing-masing tahap hanya dapat dimunculkan oleh suatu keinginan
sadar. Kejadian kebetulan bukan hanya tidak masuk akal, melainkan juga
mustahil.
Jika dikatakan bahwa sebuah molekul
protein telah terbentuk pada kondisi atmosfir primitif, harus diingat bahwa
hukum-hukum probabilitas, biologi dan kimia telah menunjukkan bahwa hal itu
tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Namun jika kita terpaksa menerima bahwa
hal tersebut memang terjadi, maka tidak ada pilihan lain kecuali mengakui bahwa
keberadaannya karena kehendak Sang Pencipta.
Logika serupa berlaku juga pada
seluruh hipotesis yang diusulkan oleh evolusionis. Misalnya, tidak ada bukti
paleontologis maupun secara pembenaran fisika, kimia, biologi atau logika yang
membuktikan bahwa ikan beralih dari air ke darat dan menjadi hewan darat. Akan
tetapi, jika seseorang membuat pernyataan bahwa ikan merangkak ke darat dan
berubah menjadi reptil, maka dia pun harus menerima keberadaan Pencipta yang
mampu membuat apa pun yang dikehendaki-Nya dengan hanya mengatakan
"jadilah". Penjelasan lain untuk keajaiban semacam itu berarti
penyangkalan diri dan pelanggaran atas prinsip-prinsip akal sehat.
Kenyataannya telah jelas dan
terbukti. Seluruh kehidupan merupakan karya agung yang dirancang sempurna. Ini
selanjutnya memberikan bukti lengkap bagi keberadaan Pencipta, Pemilik
kekuatan, pengetahuan, dan kecerdasan yang tak terhingga.