Friday, 6 June 2014

FARMAKOLOGI OBAT KARDIOVASKULER



BAB  I
PENDAHULUAN
A.        Latar belakang
Mengingat peranan obat yang sangat penting ini, maka sejak permulaan abad ke – 20 timbul disiplin baru dalam ilmu kedokteran yang dinamakan farmakologi ( farmakon = obat, logos = ilmu ). Semula farmakologi mencakup semua ilmu yang berhubungan dengan obat dengan definisi sebagai berikut : ilmu yang mempelajari sejarah, asal-usul obat, sifat fisik dan kimiawi, cara mencampur dan membuat obat, efek terhadap fungsi bokimiawi dan faal, cara kerja, absorpsi, distribusi, biotransformasi dan ekresi, pengunaan dalam klinik dan efek toksiknya. Obat dalam arti luas adalah zat kimia yang mempengaruhi proses hidup, sehingga farmakologi mencakup ilmu pengetahuan ( explosion of knowledge ) dan keterbatasan kemampuan otak manusia maka farmakologi dipecah menjadi berbagai disiplin yang mempunyai ruang lingkup yang lebih terbatas.
Sistem kardiovaskuler adalah suatu sistem yang sangat dinamik,yang harus mampu berdaptasi cepat terhadap perubahan mendadak. Perubahan terkanan darah, kerja dan frekuensi jantung serta komponen kardiovaskuler lain merupakan resultante dari berbagai faktor pengatur yang bekerja secara serentak.
B.    Rumusan Masalah
1. Apa fungsi obat sistem kardiovaskuler ?
2. Bagaimana strategi pemberian obat kardiavaskuler ?
3. Apa obat yang paling sering di gunakan ?
4. Apa saja efek utama dan efek samping dari obat tersebut ?

C.    Tujuan Penulisan
1. Mengetahui fungsi dari obat kardiofaskuler.
2. Mengetahui strategi pemberian obat kardiovaskuler.
3. mengetahui obat yang paling sering di gunakan.
4. mengetahui efek utama dan efek samping obat kardiovaskuler.
 


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian
Kardiovaskuler terdiri dari dua suku kata yaitu cardiac dan vaskuler. Cardiac yang berarti jantung dan vaskuler yang berarti pembuluh darah. Dalam hal ini mencakup sistem sirkulasi darah yang terdiri dari jantung  komponen darah dan pembuluh darah. Pusat peredaran darah atau sirkulasi darah ini berawal dijantung, yaitu sebuah pompa berotot yang berdenyut secara ritmis dan berulang 60-100x/menit. Setiap denyut menyebabkan darah mengalir dari jantung, ke seluruh tubuh dalam suatu jaringan tertutup yang terdiri atas arteri, arteriol, dan kapiler kemudian kembali ke jantung melalui venula dan vena
Dalam mekanisme pemeliharaan lingkungan internal sirkulasi darah digunakan sebagai sistem transport oksigen, karbon dioksida, makanan, dan hormon serta obat-obatan ke seluruh jaringan sesuai dengan kebutuhan metabolisme tiap-tiap sel dalam tubuh. Dalam hal ini, faktor perubahan volume cairan tubuh dan hormon dapat berpengaruh pada sistem kardiovaskuler baik secara langsung maupun tidak langsung.
Dalam memahami sistem sirkulasi jantung, kita perlu memahami anatomi fisiologi yang ada pada jantung tersebut sehingga kita mampu memahami berbagai problematika berkaitan dengan sistem kardivaskuler tanpa ada kesalahan yang membuat kita melakukan neglicen t( kelalaian). Oleh karena itu, sangat penting sekali memahami anantomi fisiologi kardiovaskuler  yang berfungsi langsung dalam mengedarkan obat-obatan serta oksigenasi dalam tubuh dalam proses kehidupan.
Obat kardiovaskuler adalah obat yang digunakan untuk kelainan jantung dan pembuluh darah. Obat kardiovaskuler dibedakan menjadi beberapa bagian, diantaranya ;
1.                   Obat Gagal Jantung
2.                   Obat Antiaritmia
3.                   Obat Antihipertensi
4.                   Obat Lipidemia
5.                   Obat Antiangina

B.       Obat – Obat Yang Mempengaruhi Sistem Kardiovaskuler.

1.    Obat Gagal Jantung
Gagal jantung dalah ketidak mampuan jantung dalam memompa darah dengan kecepatan yang cukup untuk memnuhi kebutuhan metabolik jaringan  atau organ. Pada gagal jantung terdapat tiga poin yang menjadi sasaran pengobatan yaitu :
a)      Peningkatan kontraksi sel otot jantung.
b)      Penurunan beban kerja jantung
c)      Pengaturan kelebihan cairan di dalam plasma.
Obat yang digunakan untuk meningkatkan kontraktilitas jantung yaitu menggunakan glikosida jantung dan dobutamin (simpatominetika). Pada kondisi gagal ginjal kronik, dobutamin lebih direkomendasikan namun keterbatasan cara pemberiannya yaitu diberikan secara intravena.
Pada gagal jantung, kontraksi jantung yang lemah merangsang sistem saraf simpatik termasuk persyarafan pada organ ginjal sehingga merangsang pelepasan renin, dan pada pembuluh darah sehingga merangsang vasokontriksi. Aktivasi sistem reni  - angiotensin mengakibatkan vasokontriks maupun pelepasan aldosteron dari korteks adrenal. Dalam hal ini, semua jenis obat diuresis bisa digunakan terutama furosemid, thiazid ataupun spironolakson.
Kenaikan tekanan darah pada kondisi gagal jantug mengakibatkan kenaikan beban kerja jantung. Dalam kaitannya hal tersebut, sistem renin – angiotensin mengambil peran penting. Oleh karena itu, ACE inhibitor (kaptopril) atau antagonis reseptor angiotensin (losartan) sering digunakanuntuk tujuan itu. Contoh obat lainnya adalah golongan nitrat (isosobid dinitrat, nitroprusida), yang merupakan obat vasodilator. Nitroprusida dapat menurunkan baik beban awal (prelond) maupun beban akhir (afterload) tanpa mempengaruhi kontraktilitas jantung.
Macam macam obat yang digunakan :
·         Digitalis
Tanaman obat mengandung glukosida.
·         Biripidin
Dierikan oral atau pariental, meningkatkan miokardium tanpa menghambat Na+, K+ ATP atau mengaktifkan adrenoseptor.
2.    Obat Anti Aritmia
Aritmia merupakan gangguan ritme normal jantung karena terjadi malfungsi sistem konduktivitas elektrik. Malfungsi dapat menyebabkan perubahan pada frekuensi denyut jantung, ritme, pengaturan dan tempat asal impuls, atau konduksi elektrik pada otot jantung. Dalam keadaan normal ritme jantung diatur dan dipengaruhi oleh faktor intriktik, faktor ekstristik jantung.
Pada dasarnya gangguan ritme jantung dapat terjadi karena gangguan pembentukan impuls, gangguan konduksi impuls atau kombinasi kedua gangguan tersebut. Kadang-kadang nodus SA, impuls terbentuk terlalu cepat , terlalu lambat atau tidak teratur sehingga terjadi kelainan seperti takikardia sinus, bradikardia sinus, aritmia sinus, dan henti sinus, yang dapat mengakibatkan henti jantung. Klasifikasi obat antiaritmia dibagi menjadi 4 ( empat ) kelas, yaitu :
1)      Kelas 1, obat yang bekerja menghambat kanal ion natrium yang tergantung voltase, misalnya prokainamid, lidokain, dan flekainid.
2)      Kelas 2, obat golongan β-blocker, misalnya propanolol.
3)      Kelas 3, obat penghambat kanal ion kalium, misalnya bretilium, amiodaron.
4)      Kelas 4, obat penghambat kanal ion klorida, misalnya verapamil.

Obat yang sering digunakan :
·         Kuinidin (Gol. IA)
Di berikan secara oral, dengan tujuan untuk menekan kecepatan pacu jantung serta menekan konduksi dan ekstabilitas terutama pada jaringan yang mengalami depolarisasi. Kuinidin bersifat penghambat adrenoseptor alfa yang dapat menyebabkan atau meningkatkan reflek nodus sinoatrial. Pada pemberian intravena akan lebih menonjol efeknya.
·         Prokainamid (Gol. IA)
Efek fisiologik prokainamid sama seperti kuinidin. Bersifat penghambat ganglion. Dengan konsentrasi teurapeutik, diberikan secara intravena dan intramoscular serta 75% adsorbsi pada pemberian oral.
·         Lidokain (Gol. IB)
Lidokain adalah obat aritmia yang lazim dipakai dengan pemberian secara intravena. Insiden toksisitasnya rendah dan mempunyai efektifitas tinggi pada aritmia dengan infark otot jantung akut.
·         Fenitoin (Gol. IB)
Sebagai obat barisan kedua karena efktifitasnya terbatas.

3.    Obat Antihipertensi
Tekanan darah dalam arteri besar terutama di tebtukan oleh curah jantung satu pihak dan resistensinya perifer di lain pihak. Curah jantung menentukan tekanan sistolik, yaitu tekanan darah pada waktu katup aorta terbuka, sedangkan resistensinya perifer lebih banyak berpengaruh terhadapa tekanan diastolik. Artinya, tekanan darah tinggi diakibatkan volume darah lebih besar dibandingkan ruangan yang tersedia pada pembuluh darah, serta volema darah yang dipompa oleh jantung terlalu cepat.
Pada kondisi prehipertensi ini, meskipun belum hipertensi namun penderita harus mulai melakukan terapi terutama terapi non farmakologi, dan mencegah aktivitas yang dapat meningkatkan tekanan darah.
Strategi menurunkan tekanan darah berdasarkan hal di atas, tekanan darah yang tinggi bisa di turunkan melalui penurunan curah jantung atau resistensi perifer. Penurunan curah jantung di pengaruhi oleh :
1.      Penurunan frekuensi denyut jantung
2.      Penurunan kontraktilitas jantung
3.      Penurunan retensi  air dan natrium
Sedangkan resistensi perifer diturunkan dengan menghambat vasodilatasi. Berdasarkan hal tersebut, obat hipertensi diklasifikasi menjadi 5 ( lima ) yaitu :

1.      Obat yang mempengaruhi resistensi perifer, meliputi :
§  α-blocker,
§  Calcium antagonist,
§  Golongan nitrat,

2.      Obat diuresis ( penurunan volume darah ), meliputi :
§  Thiazid,
§  Furosemid,
§  Diuresis hemat kalium,
3.      Obat yang mempengaruhi sistem renin-angiotenin, meliputi :
§  ACE inhibitors,
§  Antagonist reseptor angiotensin II,
4.      Oabt yang mempengaruhi curah jantung, meliputi :
§  Non-selective β Blockers,
§  Selective β Blockers,
5.      Obat bereaksi pada pusat ( central blockers ), meliputi :
§  Klonidin
§  Metildopa
§  guanabenz

4.    Obat Hiper Lipidemia
Lipid termasuk kolesterol dan trigliserid, mengalami transport dalam plasma, membentuk komplek dengan protein sebagai lipoprotein. Berdasarkan kandungan protein dan lipid, lipoprotein dibagi menjadi empat jenis yaitu kilomikron, low- dan very low- density lipid ( LDL dan VLDL ), semuanya termasuk kolesterol jahat, dan high density lipid ( HDL ) termasuk kolesterol baik.
Kilomikron berperan dalam transport kolesterol dan trigliserida dari saluran pencernaan menuju ke jaringan, kandungan trigliserida dipecah oleh lipoprotein lipase menjadi asam lemak bebas, yang kemudian diambil oleh jaringan tersebut. Sisa kilomikron di ambil ke hati, kolesterolnya disimpan untuk diubah menjadi asam empedu, atau dilepas kembali dalam bentuk VLDL.
Asam empedu disimpan dalam kandung empedu, di lepaskan ke duodenum untuk membantu pencernaan lemak di ileum. VLDL berperan dalam transport kolesterol dan trigliserida menuju kejaringan, sebagian besar trigliserida dipecah oleh  lipase menjadi asam lemak bebas  dan masuk ke jaringan.
LDL terbantuk mengandung komponen kolestrol jumlah besar, diambil oleh jaringan atau hati dengan proses endositosis melalui reseptor LDL spesifik. Kolesterol diambil oleh HDL untuk ditransport kolesterol dalam jaringan, dan diubah menjadi LDL atau VLDL.
            Kenaikan kadar LDR meningkatkan resiko penyakit jantung iskemia. Penyakit tersebut disebabkan karena terjadi plak intima pembuluh darah yang menebal, yang dinamakan ateroma.  Pembuluh darah tersebut bisa pecah dan terjadi trombosis sehingga menyebabkan infark miokardial. Proses penebalan pada dinding pembuluh darah, akibat terjadi ateroma yang mengandung lipid, termasuk kolesterol dan triglisrida dinamakan atherosklerosis. Manifestasi dari atherosklerosis adalah penyakit jantung koroner, stroke, dan penyakit pembuluh darah perifer.
                       Obat penurun lipid ditujukan untuk menurunkan kadar kolesterol-LDL plasma. Obat penurun lipid dibagi menjadi empat yaitu :
1.      HMG-Co A reductase inhibitors. Obat ini merupakan obat lini pertama untuk pasien dengan hiperkolesterolemia. Obat ini beraksi menghambat enzim HMG-CoA reductase, enzim yang mengkatalisis perubahan HMG-CoA menjadi asam mevalonat, tahap penentu dalam sisntesis kolesterol. Obat ini mengurangi kadar kolesterol intraseluler, sehingga menyebabkan sel/jaringan mengambil esktraseluler. Obat ini menghasilkan penurunan kadar kolesterol dan LDL plasma, dan menaikan HDL plasma. Contoh obatnya : lovastatin, simvastatin, pravastatin, atorvastatin, cerivastatin.
2.             Resin pengikat asam empedu. Obat ini merupakan resin penukaran anion yang mengikat muatan negatif asam empedu dalam usus halus, untuk mencegah reabsorpsi asam empedu (sirkulasi enterohepatik). Resin ini tidak mengalami absorpsi dan metabolisme. Kompensasi tubuh terhadap penurunan asam empedu adalah perubahan kolesterol menjadi asam empedu dalam hati, sehingga menurunkan kadar kolesterol, selanjutnya menurunkan kadar LDL dalam plasma. Contoh obat adalah kolestiramin dan kolestipol. Efek samping penggunaan resin ini adalah bisa mempengaruhi absorpsi obat lain dan vitamin larut lemak.
3.             Golongan fibrat. Obat ini bekerja dengan meningkatkan aktivitas lipoprotein lipase. Hal ini menyebabkan peningkatan hidrolisis trigliserida dalam kilomikron dan VLDL, membebaskan asam lemak bebas untuk disimpan dalam jaringan atau untuk proses metabolisme dalam otot striata. Disamping itu, obat ini juga menurunkan LDL dan menaikan HDL. Contoh obat : klofibrat, fenofibrat, gemibrozil, siprofibrat, bezafibrat.
4.             Nicotinic acid. Asam nikotinat merupakan vitamin, dapat menurunkan kadar lipid. Obat ini bekerja menghambat sintesis trigliserida hepatik dan proses sekresi VLDL dari hati.
5.    Obat Antiangina
Sebagian besar pasien angina pektoris diobati dengan beta-bloker atau antagonis kalsium. Meskipun demikian, senyawa nitrat kerja singkat, masih berperan penting untuk tindakan prefilaksis sebelum kerja fisik dan untuk nyeri dada yang terjadi sewaktu istirahat.
a.       Golongan nitrat
Senyawa nitrat bekerja langsung merelaksasi otot polos pembuluh vena, tanpa bergantung pada sistem persarafan miokardium. Dilatasi vena menyebabkan alir balik vena berkurang sehingga mengurangi beban hulu jantung. Selain itu, senyawa nitrat juga merupakan vasodilator koroner yang poten
ü  Gliseril trinitrat, kodenya 7-240
ü  Isosorbid dinitrat, kodenya 7-242
ü  Isosorbid mononitrat, kodenya 7-242
ü  Pentaeritritol tetranitrat, kodenya 7-241
b.      Golongan antagonis kalsium
Antagonis kalsium bekerja dengan cara menghambat influks ion kalsium transmembran, yaitu mengurangi masuknya ion kalsium melalui kanal kalsium lambat ke dalam sel ototpolo, otot jantung dan saraf. Berkurangnya kadar kalsium bebas didalam sel-sel tersebut menyebabkan berkurangnya kontraksi otot polos  pembuluh darah (vasodilatasi), kontraksi otot jantung (inotropik  negatif), serta pembentukan dan konduksi impuls dalam jantung (kronotropik dan dromotropik negatif).
ü  Amplidipin besilat
ü  Diltiazem hidroklorida
ü  Nikardipin hidroklorida
ü  Nifedipin
ü  Nimodipin
c.       Golongan beta-bloker
Obat-obat penghambat adrenoseptor beta (beta-bloker) menghambat adrenoseptor-beta di jantung, pembuluh darah perifer, bronkus, pankreas, dan hati. Saat ini banyak tersediabeta-bloker yang pada umumnya menunjukkan efektifitas yang sama. Namun, terdapat perbedaan – perbedaan diantara berbagai beta-bloker, yang akan mempengaruhi pilihan dalam mengobati penyakit atau pasien tertentu. Beta-bloker dapat mencetuskan asma dan efek ini berbahaya. Karena itu, harus dihindarkan pada pasien dengan riwayat asma atau penyakit paru obstruktif menahun.
1.      Propranolol hidroklorida, kodenya 7-138
2.      Asebutolol, kodenya 7-138
3.      Atenolol
4.      Betaksolol
5.      Bisoprolol fumarat
6.      Karvedilol
7.      Labetalol hidrklorida, kodenya 7-268
8.      Metoprolol tartrat, kodenya 7-208
9.      Nadolol
10.  Oksprenolol hidroklorida, kodenya 7-201
11.  Pindolol
12.  Sotalol hidroklorida, kodenya 7-208



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pembahasan obat yang berpengaruh terhadap suatu alat tubuh akan lebih mudah di pahami bila fisiologi dan patofisiologi alat tubuh tersebut di mengerti, karena reaksi alat tubuh yang sakit terhadap obat mungkin berbeda dari reaksi alat tubuh yang sehat.
Sistem kardiovaskuler adalah suatu sistem yang sangat dinamik,yang harus mampu berdaptasi cepat terhadap perubahan mendadak. Perubahan terkanan darah, kerja dan frekuensi jantung serta komponen kardiovaskuler lain merupakan resultante dari berbagai faktor pengatur yang bekerja secara serentak.
Obat – obat yang kardiovaskuler adalah obat yang digunakan untuk kelainan jantung dan pembuluh darah. Dalam hal ini mencakup sistem sirkulasi darah yang terdiri dari jantung  komponen darah dan pembuluh darah. Pusat peredaran darah atau sirkulasi darah ini berawal dijantung, yaitu sebuah pompa berotot yang berdenyut secara ritmis dan berulang 60-100x/menit. Setiap denyut menyebabkan darah mengalir dari jantung, ke seluruh tubuh dalam suatu jaringan tertutup yang terdiri atas arteri, arteriol, dan kapiler kemudian kembali ke jantung melalui venula dan vena

B.     Saran
Dengan makalah ini, saya harapkan dapat memberikan informasi yang dibutuhkan tentang apa itu farmakologi dan obat – obat kardiovaskuler didalam bidang kesehatan dan diharapkan mahasiswa mampu memahami dan mengaplikasikannya dalam asuhan keperawatan. Kami sangat berharap kritikan dan saran yang dapat membangun saya untuk lebih baik lagi. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.



DAFTAR PUSTAKA
The coronary drug project research group, JAMA vol.231 no 4,p.360-381,1975.
MF Oliver et al : A co-operative trial in the primary prevention of ischaemic heart diease using clofibrate, Brit Heart J, 40 , 1069-1118,1978.
Deglin, Vallerand, 2005, Pedoman Obat Untuk Perawat, Jakarta, EGC
Ganiswarna, 1995, Farmakologi dan Terapi, Jakarta, FKUI
Kee, Hayes, 1996, Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan, Jakarta, EGC

BTCLS AKPER AL HIKMAH 2 BREBES



Thursday, 5 June 2014

IWL ( Insensible Water Loss)



Rumus Menghitung IWL
Rumus Menghitung IWL ( Insensible Water Loss)

*Rumus menghitung balance cairan
    
     CM – CK – IWL
 Ket:
     CM : Cairan Masuk
     CK : Cairan Keluar
*Rumus IWL
     
      IWL = (15 x BB )
                     24 jam
Cth:   Tn.A BB 60kg dengan suhu tubuh 37C
       IWL = (15 x 60 )  = 37,5 cc/jam
                    24 jam
 *kalo dlm 24 jam ----> 37,5 x 24 = 900cc
                  
*Rumus IWL Kenaikan Suhu
       [(10% x CM)x jumlah kenaikan suhu]  + IWL normal
                             24 jam
Cth:  Tn.A BB 60kg, suhu= 39C, CM= 200cc
      IWL = [(10%x200)x(39C-37C)] + 37,5cc
                                 24 jam
              = (20x2) + 37,5cc
                    24
              = 1,7 + 37,5 = 39cc/jam
Tehnik Menghitung Balance Cairan (Anak)
Menghitung Balance cairan anak tergantung tahap umur,  untuk menentukan Air Metabolisme, menurut Iwasa M, Kogoshi S dalam Fluid Tehrapy Bunko do (1995) dari PT. Otsuka Indonesia yaitu:
Usia Balita (1 - 3 tahun)      : 8 cc/kgBB/hari
Usia 5 - 7 tahun                    : 8 - 8,5 cc/kgBB/hari
Usia 7 - 11 tahun                  : 6 - 7 cc/kgBB/hari
Usia 12 - 14 tahun               : 5 - 6 cc/kgBB/hari
Untuk IWL (Insensible Water Loss) pada anak = (30 - usia anak dalam tahun) x cc/kgBB/hari
 Jika anak mengompol menghitung urine 0,5 cc - 1 cc/kgBB/hari
CONTOH :
An X (3 tahun) BB 14 Kg, dirawata hari ke dua dengan DBD, keluhan pasien menurut ibunya: "rewel, tidak nafsu makan; malas minum, badannya masih hangat; gusinya tadi malam berdarah" Berdasarkan pemeriksaan fisik didapat data: Keadaan umum terlihat lemah, kesadaran composmentis, TTV: HR 100 x/menit; T 37,3 °C;  petechie di kedua tungkai kaki, Makan /24 jam hanya 6 sendok makan, Minum/24 jam 1000 cc; BAK/24 jam : 1000 cc, mendapat Infus Asering 1000 cc/24 jam. Hasil pemeriksaan lab Tr terakhir: 50.000. Hitunglah balance cairan anak ini!
Input cairan:  Minum     : 1000 cc            
                          Infus        : 1000 cc                                       
                           AM         :   112 cc    +     (8 cc x 14 kg)                          
                             -------------------------
                                             2112 cc
  Out put cairan:   Muntah       :   100 cc
                                 Urin           : 1000 cc
                                 IWL           :   378 cc   +    (30-3 tahun) x 14 kg
                           -----------------------------
                                                   1478 cc
Balance cairan = Intake cairan - Output Cairam
                                2112 cc - 1478 cc
                                + 634 cc  
Sekarang hitung balance cairannya jika suhu An x 39,8 °C  !
yang perlu diperhatikan adalah penghitungan IWL pada kenaikan suhu gunakan rumus: 
IWL + 200 ( Suhu Tinggi - 36,8  °C) 36,8 °C adalah konstanta.
IWL An X  = 378 + 200 (39,8 °C - 36,8  °C)
                       378 + 200 (3)
                       378 + 600
                       978 cc
Maka output cairan An X =   Muntah       :   100 cc
                                                     Urin            : 1000 cc
                                                     IWL             :   978 cc   +
                                                      -------------------------
                                                                             2078 cc
Jadi Balance cairannya = 2112 cc - 2078 cc
                                               + 34 cc.
Ingat menghitung Balnce cairan harus kumpulan data/24 jam!!!!!!
Tehnik menghitung Balance Cairan (Dewasa)
Menghitung balance cairan seseorang harus diperhatikan berbagai faktor, diantaranya Berat Badan dan Umur..karena penghitungannya antara usia anak dengan dewasa berbeda.
Menghitung balance cairanpun harus diperhatikan mana yang termasuk kelompok Intake cairan dan mana yang output cairan. Berdasarkan kutipan dari Iwasa M. Kogoshi S (1995) Fluid Therapy do  (PT. Otsuka Indonesia) penghitungan wajib per 24 jam bukan pershift.

PENGHITUNGAN BALANCE CAIRAN UNTUK DEWASA
Input cairan:             Air (makan+Minum)  = ......cc
                               Cairan Infus               = ......cc
                               Therapi injeksi           = ......cc
                               Air Metabolisme        = ......cc    (Hitung AM= 5 cc/kgBB/hari)

Output cairan:         Urine                          = ......cc
                              Feses                          = .....cc (kondisi normal 1 BAB feses = 100 cc)
                              Muntah/perdarahan
                              cairan drainage luka/
                              cairan NGT terbuka   = .....cc
                              IWL                           = .....cc (hitung IWL= 15 cc/kgBB/hari)
                              (Insensible Water Loss)

Contoh Kasus:
 Tn Y  (35 tahun) , BB 60 Kg; dirawat dengan post op Laparatomi hari kedua..akibat appendix perforasi, Keadaan umum masih lemah, kesadaran composmentis..Vital sign TD: 110/70 mmHg; HR 88 x/menit; RR 20 x/menit, T 37 °C: masih dipuasakan, saat ini terpasang NGT terbuka cairan berwarna kuning kehijauan sebanyak 200 cc; pada daerah luka incici operasi terpasang drainage berwarna merah sebanyak 100 cc, Infus terpasang Dextrose 5% drip Antrain 1 ampul /kolf : 2000 cc/24 jam., terpasang catheter urine dengan jumlah urine 1700 cc, dan mendapat tranfusi WB 300 cc; mendapat antibiotik Cefat 2 x 1 gram  yg didripkan dalam NaCl 50 cc setiap kali pemberian, Hitung balance cairan Tn Y!
Input Cairan:       Infus            = 2000 cc
                          Tranfusi WB =   300 cc
                          Obat injeksi =    100 cc
                          AM             =    300 cc  (5 cc x 60 kg)      +
                          ---------------------------------------------
                                                  2700 cc 
Output cairan:     Drainage      =     100 cc
                           NGT           =     200 cc
                           Urine           =  1700 cc
                           IWL            =     900 cc     (15 cc x 60 kg)  +
                        ----------------------------------------------
                                                    2900 cc
Jadi Balance cairan Tn Y dalam 24 jam : Intake cairan - output cairan
                                                              2700 cc - 2900 cc
                                                              - 200 cc.

Bagaimana jika ada kenaikan suhu? maka untuk menghitung output terutama IWL gunakan rumus :
IWL + 200 (suhu tinggi - 36,8 .°C), nilai 36,8 °C adalah konstanta
Andaikan suhu Tn Y adalah 38,5 °C, berapakah Balance cairannya?

berarti nilai IWl Tn Y= 900 + 200 (38,5 °C  - 36,8 .°C)
                                = 900 + 200 (1,7)
                                = 900 + 340 cc
                                = 1240 cc
Masukkan nilai IWL kondisi suhu tinggi dalam penjumlahan kelompok Output :
Drainage      =     100 cc
NGT           =     200 cc
Urine           =  1700 cc 
IWL            =  1240 cc   +
--------------------------
                      3240 cc
Jadi Balance cairannya dalam kondisi suhu febris pada Tn Y adalah : 2700 cc - 3240 cc =  -540 cc